Menunaikan puasa Ramadhan merupakan ibadah yang wajib dikerjakan oleh umat islam atas perintah Allah SWT dalam melaksanakan rukun islam yang ketiga. Selain menahan rasa lapar dan haus dari terbit fajar hingga terbenam matahari, banyak sekali hakikat didalam melakukan puasa. Apa saja? Yuk, simak pembahasan 5 hakikat puasa yang wajib diketahui bagi umat muslim yang akan menjalaninya.

Baca Juga: 7 Keutamaan Puasa Tasua 2023 Beserta Bacaan Niat Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Hakikat Puasa

Hakikat Puasa

Melaksanakan puasa Ramadhan maupun sunnah dapat dipastikan adanya hakikat puasa yang harus di ketahui oleh umat islam yang menjadi bagian dari syarat dalam berpuasa. Apabila kita sudah tahu arti hakikat puasa maka menunaikan ibadah puasa yang akan dikerjakannya dapat dilakukan secara ikhlas tanpa ingin dipuji orang lain.

Dengan begitu tentu, umat muslim akan selalu menjaga dan mentaati segala rukun dan sunnah puasa yang dapat dikerjakan agar mendapat pahala dari Allah SWT.

5 Hakikat Puasa

5 Hakikat Puasa Yang Wajib Diketahui Bagi Umat Muslim

Berikut ini, beberapa hakikat puasa yang harus diketahui oleh umat muslim, diantaranya:

Bertaqwa Kepada Allah SWT

Hakikat puasa bagi orang yang menjalankan yang pertama adalah bertaqwa kepada Allah SWT. Dengan hakikat puasa ini telah dijelaskan dalam Al-quran surah Al-Baqarah ayat 183,:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.

Penjelasan ayat diatas banyak memiliki kandungan makna didalam kewajiban menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Artinya, hakikat puasa bagi orang yang beriman untuk melaksanakan puasa Ramadhan hanya tertaqwa kepada Allah SWT.

Akhlak Mulia

Melansir dari berbagai sumber menyatakan bahwa hakikat puasa selain bertaqwa kepada Allah SWT tak lain yaitu membentuk akhlak mulia. Dimana, seorang muslim yang sedang menjalankan puasa berarti mereka sedang belajar mencegah melakukan perbuatan kurang baik, seperti perilaku tidak sopan, suka berbohong dan sebagainya.

Sehingga, ketika puasa penuh dengan ketenangan, berperilaku baik dan lainnya, maka Allah SWT akan menerima puasanya. Dengan begitu, kita sebagai umat islam sudah waktunya untuk selalu menjaga lisan, berperilaku baik dan mengerjakan kewajiban serta amalan sunnah yang telah dicontohkan oleh Rasulullah SAW.

Menjadi Ahli Berpuasa

Adapun, hakikat puasa bagi orang yang menjalankan bisa dikatakan mereka menjadi ahli berpuasa dan mengikuti anjuran Rasulullah SAW. Seorang muslim ahli berpuasa tentunya akan diberikan tempat khusus di sruga dengan penuh kedamaian dan kesegaran oleh Allah SWT. Bahkan, pintu surga bagi ahli puasa tidak akan dimasuki oleh orang yang bukan ahlinya.

Dengan demikian, jika kita ingin masuk surga maka harus menjalankan segala perintah dan menjauhi segala larangan-Nya. Kemudian, menguti jejak Rasulullah SAW dengan mengamalkan sebagai macam amalan sunnah yang telah dicontohkannya.

Menjaga lisan dan perbuatan

Hakikat puasa yang selanjutnya untuk selalu menjaga lisan dan perbuatan yang tidak bermanfaat bagi diri sendiri maupun orang lain, seperti memfitnah, berdusta, perkataan keji, mengumpat, provokasi dan sebagainya. Hal ini tentu dapat terhindar dari kebencian Allah SWT maupun orang lain.

Umat islam dianjurkan untuk tidak berbicara yang kurang bermanfaat selamat bulan puasa Ramadhan satu bulan penuh. Alangkah baiknya mengerjakan kegiatan ibadah yang bermanfaat, seperti membaca Al-quran, dzikir, bersedekah dan sebagainya. Dengan demikian, tentu kita dapat terhindar dari suatu yang bisa membatalkan puasa.

Baca Juga: 8 Keutamaan 10 Hari Pertama Bulan Ramadhan Beserta Amalannya

Pahala Puasa Ramadhan

pahala puasa ramadhan, Hakikat Puasa

Selain itu, hakikat puasa yang berikutnya adalah berlomba-lomba dalam melakukan kebaikan agar dapat pahala puasa Ramadhan.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadist,:

“Setiap amalan kebaikan yang dilakukan oleh manusia akan dilipatgandakan dengan sepuluh kebaikan yang semisal hingga tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman: “Kecuali amalan puasa. Amalan puasa tersebut adalah untuk-Ku. Aku sendiri yang akan membalasnya. Disebabkan dia telah meninggalkan syahwat dan makanan karena-Ku. Bagi orang yang berpuasa akan mendapatkan dua kebahagiaan yaitu kebahagiaan ketika dia berbuka dan kebahagiaan ketika berjumpa dengan Rabbnya. Sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada bau minyak kasturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Penjelasanan didalam hadist tersebut seorang umat muslim yang telah mengerjakan amalam kebaikan akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda hingga 700 kali lipat. Sedangkan, pahala orang yang telah berpuasa tentu bisa mendapatkan pahala yang tak terhingga. Mengapa? Karena, selama bulan puasa umat muslim telah berusaha meniggalkan segala hal yang tidak disukai oleh Allah SWT.

Ibnu Rajab Al Hambali rahimahullah di Lathaif Al-Ma’arif mengatakan,

“Sebagaimana pahala amalan puasa akan berlipat-lipat dibanding amalan lainnya, maka puasa di bulan Ramadhan lebih berlipat pahalanya dibanding puasa di bulan lainnya. Ini semua bisa terjadi karena mulianya bulan Ramadhan dan puasa yang dilakukan adalah puasa yang diwajibkan oleh Allah pada hamba-Nya. Allah pun menjadikan puasa di bulan Ramadhan sebagai bagian dari rukun Islam, tiang penegak Islam.”

Nah, itulah pembahasan 5 hakikat puasa yang wajib diketahui bagi umat muslim yang akan menjalaninya dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: 10 Keutamaan Puasa Muharram dan Bacaan Niat yang Wajib Diketahui Umat Muslim

 

Melaksanakan puasa Ramadhan 2023 terdapat beberapa larangan atau hal yang dapat membatalkan puasa. Selain daripada makan dan minum, ada yang tidak boleh melakukan sesuatu disiang hari bulan Ramadhan bagi umat muslim yang sudah berumah tangga. Salah satu larangan tidak boleh dilakukan selama bulan puasa pada siang hari yaitu berhubungan suami istri. Lantas, bagaimana hukumnya bila suami istri melakukan hubungan disiang hari? Yuk simak pembahasan hukum berhubungan di bulan Ramadhan 2023, suami istri wajib tahu.

Baca Juga: 10 Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan 2023

Berhubungan di Bulan Ramadhan

Berhubungan di Bulan Ramadhan

Umat islam tentu harus mentaati segala perintah dan menjauhi larangan dari Allah SWT. Salah satu perintah Allah SWT bagi umat muslim selain melaksanakan sholat 5 waktu yaitu menunaikan ibadah puasa Ramadhan. Dengan begitu, umat islam yang sudah memiliki status suami istri tentu tidak boleh berhubungan di bulan Ramadhan tepatnya pada siang hari agar tidak membatalkan puasa.

Selama menjalakan ibadah puasa Ramadhan, terkadang banyak sekali godaan-godaan yang sering bakal terjadi. Seperti halnya tak kuat menahan rasa haus dan lapar pada siang hari, emosional ketika sedang mengalami problem hingga suami sering minta berhubungan pada isti. Hal ini yang menyebabkan puasa Ramadhan yang sedang dikerjakan menjadi batal.

Lantas, bagaimana hukumnya jika seorang suami isti melakukan hubungan pada siang hari?

Baca Juga: Niat Puasa Setelah Idul Fitri 6 Hari Bahasa Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya 2023

Hukum Berhubungan di Bulan Ramadhan

Hukum Berhubungan di Bulan Ramadhan, Suami Istri Wajib Tahu

Berikut ini, hukum berhubungan di bulan Ramadhan bagi suami istri yang wajib diketahui, diantaranya:

Malam Hari

Hukum berhubungan di bulan Ramadhan bagi suami istri pada malam hari yaitu boleh. Jadi, apabila seorang suami meminta hubungan pada istrinya di malam tepat di bulan Ramadhan, maka hukumnya diperbolehkan.

Allah SWT telah berfirman dalam Al-Quran surah Al-Baqarah ayat 187,:

Artinya: “Dihalalkan bagi kamu pada malam hari bulan puasa bercampur dengan istri-istri kamu. Mereka adalah pakaian bagimu dan kamupun adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwasanya kamu tidak dapat menahan nafsumu, karena itu Allah mengampuni kamu dan memberi maaf kepadamu. Maka sekarang campurilah mereka dan ikutilah apa yang telah ditetapkan Allah untukmu, dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam.” (QS. Al-Baqarah: 187).

Pada saat ingin berhubungan di bulan Ramadhan tentu harus memiliki niat yang baik agar mendapatkan ridha dari Allah SWT. Dimana, berhubungan suami istri yang sudah sah (berumah tangga) merupakan salah satu ibadah yang disunnahkan. Didalam Al-quran telah dijelaskan perihal berhubungan suami istri dalam surah Al-Baqarah ayat 223,:

Artinya: “Isteri-isterimu adalah tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok-tanammu itu bagaimana saja kamu kehendaki. Dan kerjakanlah untuk dirimu, dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa kamu kelak akan menemui-Nya. Dan berilah kabar gembira orang-orang yang beriman.” (QS. Al-Baqarah : 223).

Selain itu, Rasulullah SAW menganjurkan bagi umat-Nya yang sudah berumah tangga apabila memiliki keinginan untuk berhubungan suami istri harus membaca doa terlebih dahulu. Begitupun ketika anda ingin berhubungan di bulan Ramadhan, bisa membaca doa dibawah ini,:

لَوْ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا أَرَادَ أَنْ يَأْتِيَ أَهْلَهُ قَال : بِسْمِ اللَّهِ اللَّهُمَّ جَنِّبْنَا الشَّيْطَانَ وَجَنِّبِ الشَّيْطَانَ مَا رَزَقْتَنَا، فَإِنَّهُ إِنْ يُقَدَّرْ بَيْنَهُمَا وَلَدٌ فِي ذَلِكَ لَمْ يَضُرَّهُ شَيْطَانٌ أَبَدًا

Artinya: “Seandainya salah seorang kalian ketika akan mendatangi istrinya (berjima’) mengucapkan : Dengan nama Allah, Ya Allah, jauhkanlah kami dari setan dan jauhkan setan dari apa yang Engkau berikan kami dari rizqi, seandainya ditakdirkan dari jima’ itu seorang anak, maka setan tidak bisa membahayakan anak itu selamanya.” (HR. Bukhari Muslim).

Siang Hari

Sedangkan, hukum berhubungan di bulan Ramadhan bagi suami istri yang telah melakukannya pada siang hari sebelum waktu maghrib, maka hukumnya haram dan dapat membatalkan puasa. Dengan begitu tentu, mereka harus membayar denda (kifarah ‘udhma) yang harus dilakukan dengan cara seperti dibawah ini,:

Memerdekakan Hamba Sahaya

Membayar denda bagi suami istri yang telah berhubungan di bulan Ramadhan pada siang hari yaitu harus memerdekakan hamba sahaya yang belum beriman dan tidak boleh orang lain. Namun, untuk membayar denda seperti ini dilakukan bagi umat islam pada jaman dahulu yang masih tersedia banyak perbudakan.

Puasa Selama 2 Bulan Berturut-turut

Bayar Denda, Berhubungan di Bulan Ramadhan

Apabila tidak mamu untuk memerdekakan hamba sahaya, membayar denda untuk suami isti yang telah melakukan dalam berhubungan di bulan Ramadhan yang kedua bisa dilakukan dengan puasa selama 2 bulan berturut-turut. Maka, ketika anda ingin melakukan hubungan suami istri pada bulan Ramadhan di siang hari, maka harus membayar denda dengan puasa selama 2 bulan secara berurutan.

Memberi Makan Pada 60 Orang Mislim

Ketika anda masih tidak mampu untuk puasa selama 2 bulan, maka untuk membayar denda ketika berhubungan di bulan Ramadhan dapat dilakukan dengan memberi makan pada 60 orang mislim dengan takaran 1 mud atau sepertiga liter. Ini merupakan langkah terakhir yang harus dilakukan bagi umat islam yang berhubungan di bulan Ramadhan dengan memberikan makanan kepada 60 orang miskin degan ukuran 60ons.

Rasulullah SAW telah menjelaskan tentang membayar denda bagi umat-Nya yang sudah berumah tangga dan melakukan hubungan suami istri di siang hari pada bulan Ramadhan,:

أَنَّ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ، قَالَ: أَتَى رَجُلٌ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ: هَلَكْتُ، وَقَعْتُ عَلَى أَهْلِي فِي رَمَضَانَ، قَالَ: أَعْتِقْ رَقَبَةً قَالَ: لَيْسَ لِي، قَالَ:

فَصُمْ شَهْرَيْنِ مُتَتَابِعَيْنِ قَالَ: لاَ أَسْتَطِيعُ، قَالَ: فَأَطْعِمْ سِتِّينَ مِسْكِينًا

Artinya: “Abu Hurairah meriwayatkan, ada seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lantas berkata, “Celakalah aku! Aku mencampuri istriku (siang hari) di bulan Ramadan. Beliau bersabda, “Merdekakanlah seorang hamba sahaya perempuan.” Dijawab oleh laki-laki itu, “Aku tidak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berpuasalah selama dua bulan berturut-turut.” Dijawab lagi oleh laki-laki itu, “Aku tak mampu.” Beliau kembali bersabda, “Berikanlah makanan kepada enam puluh orang miskin,” (HR al-Bukhari).

Nah, itulah pembahasan hukum berhubungan di bulan Ramadhan 2023, suami istri wajib tahu yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: Inilah Ayat Tentang Ramadhan 2023 Anjuran Menunaikan Ibadah Puasa Dalam Al-Quran

 

Bulan Ramadhan adalah bulan yang penuh berkah dan paling mulia. Bagaimana, tidak bulan Ramadhan menjadi salah satu bulan penuh dengan ampunan. Umat muslim akan menunaikan ibadah puasa wajib selama 1 bulan penuh. Selain itu, akan melaksanakan berbagai macam amalan sunnah yang dianjurkan selama bulan Ramadhan, seperti sholat tarawih dan sholat witir. Disamping itu pula, umat muslim akan melaksanakan ibadah sahur. Lantas, apakah ada dalil atau penjelasan tentang ibadah puasa di bulan Ramadhan? Yuk, simak pembahasan inilah ayat tentang Ramadhan 2023 anjuran menunaikan ibadah puasa dalam Al-quran.

Baca Juga: 10 Keutamaan Meninggal di Bulan Ramadhan 2023

Ayat Tentang Ramadhan

Ayat Tentang Ramadhan

Beberapa hari lagi kita akan menyambut bulan suci Ramadhan 1444H yang akan dilaksanakan pada bulan maret 2023 sebelum membahas ayat tentang ramadhan. Umat islam akan melaksanakan kewajiban menunaikan rukun islam yang ketiga yaitu melakukan ibadah puasa Ramadhan selama 1 bulan penuh. Dimana, puasa Ramadhan merupakan salah satu perintah Allah SWT yang wajib dikerjakan bagi umat muslim. Apabila seorang muslim melanggar atau tidak melakukan puasa Ramadhan maka hukumnya berdosa.

Dalam sebuah hadist telah dijelaskan tentang kewajiban melaksanakan puasa Ramadhan, Rasulullah SAW bersabda,:

كُلُّ عَمَلِ ابْنِ آدَمَ يُضَاعَفُ الْحَسَنَةُ عَشْرُ أَمْثَالِهَا إِلَى سَبْعِمِائَةِ ضِعْفٍ قَالَ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ إِلاَّ الصَّوْمَ فَإِنَّهُ لِى وَأَنَا أَجْزِى بِهِ يَدَعُ شَهْوَتَهُ وَطَعَامَهُ مِنْ أَجْلِى

Artinya: Seluruh amalan kebaikan manusia akan dilipatgandakan menjadi sepuluh sampai tujuh ratus kali lipat. Allah Ta’ala berfirman, “Kecuali puasa. Sebab pahala puasa adalah untukKu. Dan Aku sendiri yang akan membalasnya. Ia (orang yang berpuasa) telah meninggalkan syahwat dan makannya karenaKu,” (HR Bukhari dan Muslim).

Baca Juga: 6 Amalan Sunnah Sebelum Shalat Idul Adha Sesuai Sunnah

6 Ayat Tentang Ramadhan

Inilah Ayat Tentang Ramadhan 2023 Anjuran Menunaikan Ibadah Puasa Dalam Al-Quran

Berikut ini, beberapa ayat tentang Ramadhan atau kewajiban melaksanakan ibadah puasa Ramadhan bagi umat islam didalam Al-quran, diantaranya:

Surah Al-Baqarah ayat 183

Ayat tentang Ramadhan bagi umat muslim harus melaksanakan puasa Ramadhan agar mendapat fadilah atau keistimewaan dan keutamaannya yaitu surah Al-Baqarah ayat 183, :

Pada ayat ini dijelaskan tentang perintah berpuasa di bulan Ramadan bagi muslim sekaligus menjelaskan ganjaran yang diberikan bagi pelakunya. Berikut bacaannya:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “Wahai orang-orang yang beriman! Diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang sebelum kamu agar kamu bertakwa,”

Surah Al-Baqarah ayat 184

Surah Al-Baqarah ayat 183 sampai 184, Ayat Tentang Ramadhan

Surah Al-Baqarah ayat 184 termasuk salah satu ayat tentang Ramadhan. Dimana, umat islam diwajibkan menunaikan puasa Ramadhan 1 bulan penuh,:

اَيَّامًا مَّعْدُوْدٰتٍۗ فَمَنْ كَانَ مِنْكُمْ مَّرِيْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّامٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَامُ مِسْكِيْنٍۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَنْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ

لَّكُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ

Artinya: “(Yaitu) beberapa hari tertentu. Maka barangsiapa di antara kamu sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka (wajib mengganti) sebanyak hari (yang dia tidak berpuasa itu) pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah, yaitu memberi makan seorang miskin. Tetapi barangsiapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan, maka itu lebih baik baginya, dan puasamu itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.”

Surah Al-Baqarah Ayat 185

Adapun, ayat tentang Ramadhan dalam al-quran telah dijelaskan perihal kewajibkan menunaikan puasa Ramadhan, yaitu surah Al-Baqarah ayat 185,:

شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ هُدًى لِلنَّاسِ وَبَيِّنَاتٍ مِنَ الْهُدَىٰ وَالْفُرْقَانِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَصُمْهُ ۖ وَمَنْ كَانَ مَرِيضًا أَوْ عَلَىٰ سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِنْ أَيَّامٍ

أُخَرَ ۗ يُرِيدُ اللَّهُ بِكُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِيدُ بِكُمُ الْعُسْرَ وَلِتُكْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُكَبِّرُوا اللَّهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَلَعَلَّكُمْ تَشْكُرُونَ

Artinya: “Bulan Ramadan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an, sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara yang benar dan yang batil). Karena itu, barangsiapa di antara kamu ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barangsiapa sakit atau dalam perjalanan (dia tidak berpuasa), maka (wajib menggantinya), sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah atas petunjukNya yang diberikan kepadamu, agar kamu bersyukur.”

Surah Al-Baqarah ayat 187

Ayat tentang Ramadhan yang selanjutnya telah dibahas dalam al-quran yaitu surah Al-baqarah ayat 187,:

أُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ إِلَىٰ نِسَائِكُمْ ۚ هُنَّ لِبَاسٌ لَكُمْ وَأَنْتُمْ لِبَاسٌ لَهُنَّ ۗ عَلِمَ اللَّهُ أَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُونَ أَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۖ فَالْآنَ بَاشِرُوهُنَّ وَابْتَغُوا

مَا كَتَبَ اللَّهُ لَكُمْ ۚ وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ ۚ وَلَا تُبَاشِرُوهُنَّ وَأَنْتُمْ عَاكِفُونَ فِي

الْمَسَاجِدِ ۗ تِلْكَ حُدُودُ اللَّهِ فَلَا تَقْرَبُوهَا ۗ كَذَٰلِكَ يُبَيِّنُ اللَّهُ آيَاتِهِ لِلنَّاسِ لَعَلَّهُمْ يَتَّقُونَ

Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu. Makan dan minumlah hingga jelas bagimu (perbedaan) antara benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa sampai (datang) malam. Tetapi jangan kamu campuri mereka, ketika kamu beriktikaf dalam masjid. Itulah ketentuan Allah, maka janganlah kamu mendekatinya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia, agar mereka bertakwa.”

Lainnya

Ayat tentang Ramadhan menjalankan puasa wajib yang lainnya, yaitu:

  • Surah Maryam ayat 26
  • Surah Al Mujadalah ayat 4

Nah, itulah pembahasan inilah ayat tentang Ramadhan 2023 anjuran menunaikan ibadah puasa dalam Al-quran yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: Niat Puasa Setelah Idul Fitri 6 Hari Bahasa Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya 2023

 

Menjaga kebersihan diri secara rutin seperti memotong kuku merupakan salah satu ccara terbaik yang harus dilakukan. Dimana, dengan melakukan memotong kuku sangat membantu untuk membersihkan kotoran didalam sela-sela kuku agar tidak menimbulkan penyakit. Dimana, jaringan tangan kanan sering digunakan untuk memasukan makanan kedalam mulut. Hal itu, tentu harus menjaga kuku supaya tidak membawa kotoran yang masuk. Lantas, bagaimana ketika memotong kuku pada saat berpuasa? Yuk, simak pembahasan hukum memotong kuku saat puasa yang wajib diketahui bagi umat muslim.

Baca Juga: Niat Puasa Bulan Dzulhijjah 10 Hari Pertama Bahasa Arab, Latin, dan Artinya

Memotong Kuku saat Puasa

Memotong Kuku saat Puasa

Sebelum membahas memotong kuku saat puasa, ada beberapa hal yang harus diketahui tentang suatu kebersihan diri. Yang mana, Rasulullah SAW sangat menganjurkan umat-Nya untuk selalu menjaga dan memelihara diri dengan kebersihan seperti membersihkan kuku. Waktu memotong kuku tentu bisa dilakukan kapan dan dimana saja pada saat kondisi kukunya sudah panjang.

Akan tetapi, dengan banyaknya sebuah pertanyaan diberbagai plafrom maupun lainnya yang memberi pertanyaan” bolehkan memotong kuku saat puasa”, Apa hukum memotong kuku saat puasa Ramadhan. Tentu dengan adaya pertanyaan tersebut akan menjadi sebuah pengetahuan bagi umat islam yang sedang belajar agama islam atau yang belum tahu hukum memotong kuku tersebut.

Kemudian, sebagai umat islam tentu anda harus pahami didalam cara memotong kuku yang baik dan benar sesuai anjuran Rasulullah SAW. Walaupun terlihat sangat mudah, tetapi hal tersebut tentunya harus diperhatikan suapaya kita mendapatkan kebiasaan dan manfaat dalam memotong kuku tersebut.

Hukum Memotong Kuku saat Puasa

Hukum Memotong Kuku Saat Puasa Yang Wajib Diketahui Bagi Umat Muslim

Hukum memotong kuku saat puasa sangat diperbolehkan. Ketika seoran muslim memotong kuku saat puasa Ramadhan, maka hukumnya tidak akan membatalkan puasa. Beberapa hadist yang menjelaskan memotong kuku termasukbagian sunnah yang harus dilakukan. Tujuannya untuk membersihkan diri yang ada didalam sela-sela kuku.

Bahkan, Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits menjelaskan tentang memotong kuku, :

“Lima hal termasuk (sunah) fitrah, yaitu; mencukur rambut kemaluan, khitan, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, dan memotong kuku”

Rasulullah SAW selalu menjaga diri dengan membersihkan tubuh dengan mandi. Selain itu, Baginda Nabi Muhammad SAW juga rajin memotong kuku dan bulu lainnya ketika sudah tumbuh panjang. Manfaat memotong kuku ini dapat membersihkan kotoran yang menempel didalam selalu kuku agar tidak masuk pada mulut ketika makan.

Baca Juga: Niat Puasa Setelah Idul Fitri 6 Hari Bahasa Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya 2023

Hal yang Membatalkan Puasa

Hal yang Membatalkan Puasa

Berikut ini, beberapa hal yang membatalkan puasa setelah mengetahui hukum memotong kuku saat puasa, diantaranya:

Makan dan Minum

Memotong kuku saat puasa tentu sangat diperbolehkan. Akan tetapi, hal yang membatalkan puasa sering terjadi adalah makan dan minum. Bila seorang muslim sengaja mengkonsumsi makanan ataupun minuman pada waktu puasa, maka puasanya menjadi batal.

Oleh sebab itu, tentu kita harus menahan diri dari hawa nafsu seperti tidak makan saat sedang puasa agar tidak menjadi batal. Ketika mengerjakan puasa Ramadhan dan senagaja makan karena lapar, maka hukumnya berdosa dan puasanya menjadi batal.

Memasukan Obat Pada Dubur atau Qubul

Selain memotong kuku saat puasa, ada beberapa hal yang membatalkan puasa ketika melakukan sesuatu. Seperti contoh bisa seorang muslim sedang mengalami penyakit ambien dan dibawa ke rumah sakit dan dipasang kateter urine.

Dengan kondisi tersebut, maka puasa yang sedang dilajaninya menjadi batal. Apakah berdosa? Tentu saja tidak. Karena kondisi ini sedang dalam pengobatan yang harus ditangani lebih cepat agar mendapat penanganan dengan mudah supaya cepat sembuh.

Muntah

Adapun, hal yang membatalkan puasa selanjutnya adalah muntah. Walaupun, memotong kuku saat puasa tidak membatalkan, tetapi muntah secara disengaja dan tertelan lagi maka dapat membatalkan puasa.

Sedangkan, muntah secara tidak sejaga maka tidak akan berdosa dan tidak membatalkan puasa. Dan tetap sah menjalankan ibadah puasa. Dengan begitu, tentu kita harus berhati-hati pada saat sedang berpuasa untuk menjaga diri agar tidak menimbulkan muntah.

Hubungan Suami Istri

Hal yang membatalkan puasa lainnya yaitu hubungan suami istri. Apabila seseorang yang telah berumah tangga melakukan hubungan suami istri disiang hari saat berpuasa, maka dapat membatalkan puasa. Jadi, memotong kuku saat puasa tidak membatalkan puasa. Akan tetapi, melakukan hubungan suami istri dapat membatalkan puasa

Selain itu, hal yang membatalkan puasa lainnya, yaitu onani secara disengaja, nifas, haid, murtad pada saat menunaikan ibadah puasa, dan masih banyak lagi yang dapat membatalkan puasa ketika sedang melaksanakan ibadah puasa wajib maupun sunnah.

Tata Cara Memotong Kuku

Berikut ini, langkah tata cara memotong kuku sesuai sunnah nabi dan mengetahui hukumnya dalam memotong kuku saat puasa, yaitu:

  • Rasulullah SAW memberi contoh dalam tata cara memotong kuku dengan benar yaitu harus diawali dari jari telunjuk tangan kanan, kemudian dilanjutnya pada jari tengah, jari manis, jari kelingking hingga sampai ibu jari.
  • Sedangkan, cara memotong kuku tangan kiri diawali dari jari jari kelingking, jari manis, jari tengah, jari telunjuk, dan berakhir pada ibu jari tangan kiri.

Nah, itulah pembahasan hukum memotong kuku saat puasa yang wajib diketahui bagi umat muslim yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: Bolehkah Puasa Hari Jumat? Bagaimana Hukumnya