Didalam ajaran islam tidak puasa Ramadhan saja yang harus dikerjakan oleh umat islam. Tetapi, banyak sekali puasa sunnah yang dianjurkan bagi umat muslim untuk dikerjakan. Selain itu, ada juga puasa yang tidak boleh dikerjakan karena hukumnya haram, seperti puasa di hari raya idul fitri dan idul adha, puasa hari tasyrik dan lainnya. Lantas, bagaimana jika mengerjakan puasa di hari jumat? Penasaran? Mari kita simak pembahasan bolehkah puasa hari jumat? Bagaimana hukumnya 2023.

Baca Juga: Inilah Hari yg Diharamkan Puasa Dalam Ajaran Islam

Puasa Hari Jumat

Puasa Hari Jumat

Melansir dari berbagai sumber menyatakan bahwa hari jumat merupakan hari raya bagi umat muslim. Melaksanakan ibadah puasa hari jumat hukumnya makruh apabila sebelum atau setelahnya tidak terjadi melakukan puasa. Penjelasan hukum puasa hari jumat ini merujuk pada sebuah hadits dari Abu Hurairah ra, Rasulullah SAW bersabda,:

Artinya “Janganlah kalian puasa hari Jumat melainkan puasa sebelum atau sesudahnya.” (HR Bukhari).

Hukum makruh didalam islam memiliki arti yang berarti bila dikerjakan tidak mendapatkan pahala dan bisa ditinggalkan tidak masalah. Maksudnya seseorang dianjurkan untuk tidak melakukan sesuatu yang ngga ada manfaatnya. Seperti halnya melakukan merokok itu hukumnya makruh.

Hukum Puasa Hari Jumat

Bolehkah Puasa Hari Jumat Bagaimana Hukumnya

Jalaluddin As-Suyuthi dalam Nurul Lum’ah fi Khashaishil Jum’ah menjelaskan hukum puasa hari jumat secara rinci, yaitu:

“Pendapat yang paling shahih menurut madzhab kami dan ini termasuk pendapat jumhur ulama bahwa puasa hari Jumat makruh kalau tidak puasa sebelum dan sesudahnya. Sebagian pendapat mengatakan tidak makruh kecuali bagi orang yang terhalang ibadahnya lantaran puasa dan tubuhnya lemah.”

Penjelasan diatas berarti hukum melaksanakan puasa hari jumat adalah makruh bila tidak dikerjakan sebelum dan sesudanya. Namun, disetiap kalangan ulama memiliki berbagai macam pendapat dalam hal tersebut. Seperti larangan menjalankan ibadah puasa hari jumat dan sabtu. Alasan larangan puasa hari jumat diantaranya, karena hari raya, agar pelaksanaan ibadah jumat lebih afdhal, dan juga perbedaan dengan kaum yahudi.

Pada jaman Baginda Nabi Muhammad SAW, orang Yahudi selalu melaksanakan puasa hari sabtu. Maka dari itu, umat islam tidak dianjurkan mengerjakan puasa pada hari jumat tersebut. Seperti yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits, Rasulullah SAW telah bersabda,:

Artinya: “Janganlah khususkan malam Jumat dengan shalat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jumat dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR Muslim).

Baca Juga: Niat Puasa Bulan Dzulhijjah 10 Hari Pertama Bahasa Arab, Latin, dan Artinya

Pandangan Ulama Perihal Puasa Hari Jumat

Pandangan Ulama Perihal Puasa Hari Jumat

Berikut ini, beberapa pandangan ulama perihal puasa hari jumat, yaitu:

Imam Nawawi Rahimahullah

Pandangan ulama perihal puasa hari jumat menurut imam Nawawi Rahimahullah mengatakan bahwa:

“Ulama Syafi’iyah berpendapat bahwa dimakruhkan berpuasa pada hari Jumat secara bersendirian. Namun jika diikuti puasa sebelum atau sesudahnya atau bertepatan dengan kebiasaan puasa seperti berpuasa nadzar karena sembuh dari sakit dan bertepatan dengan hari Jumat, maka tidaklah makruh.” (Al Majmu’ Syarh Al Muhaddzab).

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah

Sedangkan, menurut syaikh Muhammad nin Sholih Al ‘Utsaimin Rahimahullah perihal puasa hari jumat mengatakan bahwa:

“Jika seseorang berpuasa pada hari Jum’at secara bersendirian bukan maksud untuk pengkhususan karena hari tersebut adalah hari Jumat namun karena itu adalah waktu longgarnya saat itu, maka pendapat yang tepat, itu masih dibolehkan.” (Syarhul Mumthi’).

Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah

Adapun, pandangan ulama perihal puasa hari jumat menurut Syaikh ‘Abdurrahman bin Nashir As Sa’di Rahimahullah, yaitu:

“Larangan mengkhususkan puasa pada hari Jumat dimaksudkan karena sebagian orang menyangka ada keutamaan disunnahkannya puasa pada hari tersebut. Dijelaskan di sini bahwa puasa pada hari Jumat itu dilarang. Sebagaimana berpuasa pada hari Id juga terlarang dan hari Jumat juga adalah hari Id pekanan.

Penjelasan keterangan tersebut alasan tidak boleh puasa hari jumat yaitu supaya umat islam dalam melaksanakan ibadah dengan khusu dengan oenuh hikmah. Selain itu, atau bisa melaksanakan puasa ketika bertepatan dengan puasa sunnah tertentu, seperti puasa daud, puasa ayaamul bidh, puasa tarwiyah maupun arafah.

Adapun, penjelasan hukum puasa hari jumat menjadi makruh seperti yang telah disampaikan dalam sebuah hadistdari Juwairiyah bint Al-Harits;

“Rasulullah SAW pernah menemuinya pada hari Jum’at dan ia dalam keadaan berpuasa, lalu beliau bersabda: ‘Apakah engkau berpuasa kemarin?’ ‘Tidak,’ jawabnya. ‘Apakah engkau ingin berpuasa besok?’ tanya beliau lagi. ‘Tidak,’ jawabnya lagi. ‘Batalkanlah puasamu’ kata Rasulullah SAW.” (HR Bukhari).

Didalam keterangan hadits tersebut menurut para ulama menjelaskan bahwa hukum melaksanakan ibadah puasa sunnah hari jumat menjadi makruh. Akan tetapi, bisa menjalankan puasa sunnah pada hari jumat tidak makruh apabila didahului puasa sunnah hari kamis dan sabtu. Selain itu, bertepatan dengan puasa sunnah lainnya, seperti puasa arafah, auasa Ayyamul Bidh dan puasa dawud

Nah, itulah pembahasan bolehkan puasa hari jumat? Bagaimana hukumnya 2023 yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: Niat Puasa Setelah Idul Fitri 6 Hari Bahasa Arab, Latin, Arti dan Keutamaannya 2023

 

Hari yg Diharamkan Puasa – Rukun islam yang ketiga adalah puasa. Umat islam diwajibkan menunaikan ibadah puasa wajib pada bulan Ramadhan. Apabila seorang muslim meninggalkan atau tidak melaksanakan puasa Ramadhan maka hukumnya berdosa. Oleh sebab itu, kita sebagai umat muslim harus menunaikan ibadah puasa Ramadhan atas perinta Allah SWT. Namun, ada beberapa puasa sunnah yang tidak boleh dilakukan pada hari tertentu. Bila seseorang mengerjakan puasa sunnah pada hari tersebut maka hukumnya berdosa. Lantas, hari apa saja yang diharamkan untuk melakukan puasa? Yuk, simak pembahasan inilah hari yg diharamkan puasa dalam ajaran islam.

Baca Juga: 10 Keutamaan Puasa Tarwiyah, Bacaan Doa Niat Bahasa Arab, Latin dan Artinya

Hari yg Diharamkan Puasa

Hari yg Diharamkan Puasa

Sebelum membahas hari yg diharamkan puasa, ada beberapa hal yang harus diketahui tenang puasa itu sendiri. Puasa adalah menahan diri dari sesuatu yang dapat membatalkan puasa dari dengan waktu yang telah ditentukan. Selain puasa wajib, terdapat pula puasa sunnah yang sangat dianjurkan bagi umat muslim untuk melaksanakannya.

Akan tetapi, dalam menjalankan ibadah puasa sunnah tentu ada hari-hari tertentu yang tidak boleh di laksanakan mengerjakan puasa tersebut. Dengan begitu, tentu sebagai umat muslim harus pahami hari apa saja yang tidak boleh melaksanakan ibadah puasa sunnah.

Baca Juga: 8 Cara Menghilangkan Cegukan Saat Puasa 100 % Ampuh

Waktu Hari yg Diharamkan Puasa

Inilah Hari yg Diharamkan Puasa Dalam Ajaran Islam

Berikut ini, waktu hari yg diharamkan puasa didalam ajaran islam, diantaranya:

Hari Raya Idul Fitri

Hari yang diharamkan puasa yang pertama adalah dilaksanakan pada hari raya idul fitri. Umat muslim dilarang menjalankan ibadah puasa saat idul fitri. Dimana, hari idul fitri merupakan salah satu momen hari kemenangan bagi umat muslim setelah menyelesaikan puasa Ramadhan satu bulan penuh.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits, :

أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- نَهَى عَنْ صِيَامِ يَوْمَيْنِ يَوْمِ الْفِطْرِ وَيَوْمِ النَّحْرِ.

Artinya: “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam melarang berpuasa pada dua hari yaitu Idul Fitri dan Idul Adha.” (HR. Muslim).

Puasa Hari Raya Idul Adha

Selain idul fitri, hari yg diharamkan puasa selanjutnya adalah puasa hari raya idul adha. Umat muslim yang melaksanakan puasa pada hari raya qurban, maka hukumnya berdosa. Padahal, sebelum memasuki lebaran idul adha, terdapat beberapa puasa sunnah yang boleh diamalkan, seperti puasa dzulhijjah, puasa tarwiyah dan puasa arafah.

Dalam sebuah hadits telah dijelaskan larangan puasa di hari raya idul adha, Rasulullah SAW bersabda,:

Artinya: “Aku menyaksikan hari raya bersama Umar bin al Khattab, beliau berkata: ini adalah dua hari yang dilarang Rasulullah saw. untuk berpuasa, yakni hari berbukanya kalian dari puasa, dan hari lainnya kalian makan di dalamnya dari hewan sembelihan kalian.” (HR. Bukhari).

Hari Tasyrik

hari tasyrik, Hari yg Diharamkan Puasa

Adapun, hari yg diharamkan puasa berikutnya yaitu hari tasyrik. Dimana, umat muslim tidak boleh atau dilarang menjalankan ibadah puasa sunnah pada hari tasyrik. Ada 3 hari tasyrik yang tidak boleh untuk melaksanakan ibadah puasa, diantaranya pada tanggal 11, 12 dan 13 Dzulhijjah.

Rasulullah SAW bersabda dalam sebuah hadits,:

Artinya: “Janganlah kamu berpuasa pada hari ini karena ia merupakan hari makan, minum, dan berzikir kepada Allah.”

Puasa Hari Jumat

Hari yg diharamkan puasa lainnya adalah menjalankan puasa hari jumat. Secara umum, hari jumat yaitu hari yang penuh dengan berkah. Akan tetapi, ketika kita melaksanakan ibadah puasa sunnah yang bukan dari qodho, membayar kafaroh, maka berosa. Namun, sangat berbeda bila hari jumat itu bertepatan tanggal hari puasa sunnah seperti puasa syawal, puasa 1 ramadhan, puasa arafah ataupun tarwiyah.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadist, :

Artinya: “Janganlah khususkan malam Jumat dengan sholat malam tertentu yang tidak dilakukan pada malam-malam lainnya. Janganlah pula khususkan hari Jumat dengan puasa tertentu yang tidak dilakukan pada hari-hari lainnya kecuali jika ada puasa yang dilakukan karena sebab ketika itu.” (HR. Muslim).

Puasa Hari Sabtu

Puasa hari sabtu termasuk salah satu hari yg diharamkan puasa. Mengapa? Karena, pada masa jaman Baginda Nabi Muhammad SAW, hari sabtu dijadikan sebagai rutinitas bagi orang yaitu. Maka dari itu, umat muslim dilarang melaksanakan puasa pada hari sabtu terkecuali menjalankan ibadah puasa wajib maupun lainnya.

Dalam sebuah hadist telah menjelaskan larangan puasa hari sabtu. Rasulullah SAW bersabda,:

Artinya: “Janganlah kalian berpuasa hari sabtu, kecuali untuk puasa yang Allah wajibkan. Jika kalian tidak memilliki makanan apapun selain kulit anggur atau batang kayu, hendaknya dia mengunyahnya.” (HR. Turmudzi ).

Lainnya

Hari yang diharamkan puasa yang lainnya, yaitu

  • Puasa Hari Syak
  • Puasa Sepanjang Tahun
  • Puasa Wanita Saat Haid atau Nifas
  • Puasa Orang Sakit yang Dikhawatirkan Meninggal Dunia
  • Dll

Nah, itulah pembahasan inilah hari yg diharamkan puasa dalam ajaran islam dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: 5 Keutamaan Puasa Dzulhijjah dan Waktu Pelaksanaannya

 

Ketika kita mengerjakan ibadah puasa wajib di bulan Ramadhan, terkadang kita mendapatkan sesuatu yang menimbulkan kesedihan dan menangis. Salah satu contoh, apabila seseorang sedang mengerjakan puasa Ramadhan tiba-tiba ada pihak keluarga yang meninggal dunia. Hal itu, tentu akan menyebabkan keluar air mata alias menangis karena telah ditinggalkan oleh salah satu keluarganya. Dengan begitu, bagaimana hukum jika menangis saat puasa? Yuk, simak pembahasan apakah menangis membatalkan puasa Ramadhan? Ini penjelasannya.

Baca Juga: Bacaan Niat Puasa 1 Muharram Lengkap Bahasa Arab, Latin Beserta Artinya

Menangis Membatalkan Puasa

Menangis Membatalkan Puasa

Sebelum membahasa menangis membatalkan puasa, tentu sebagai umat muslim harus mengetahui segala hukum didalam puasa wajib tesrebut. Secara umum, memang menangis saat puasa Ramadhan tentu tidak akan membatalkan puasanya. Apalagi, jika seseorang menangis saat bulan puasa Ramadhan karena takut kepada Allah SWT tentu bisa mendapatkan ganjaran pahala.

Melansir dari berbagai sumber menyatakan bahwa menangis tidak menjadi bagian dari suatu hal yang dapat membatalkan puasa. Seperpti yang telah dijelaskan dalam sebuah kitab Matnu Abi Syuja’,:

والذي يفطر به الصائم عشرة أشياء : ما وصل عمدا إلى الجوف أو الرأس والحقنة في أحد السبيلين والقيء عمدا والوطء عمدا في الفرج والإنزال عن

مباشرة والحيض والنفاس والجنون والإغماء كل اليوم والردة

Artinya: “Yang membatalkan puasa ada sepuluh hal, yakni sesuatu yang sampai pada rongga bagian dalam tubuh (jauf) atau kepala, mengobati dengan memasukkan sesuatu pada salah satu dari dua jalan (qubul dan dubur), muntah secara sengaja, melakukan hubungan seksual secara sengaja pada alat kelamin, keluarnya mani sebab bersentuhan kulit, haid, nifas, gila, pingsan, dan murtad,”

Apakah Menangis Membatalkan Puasa Ramadhan?

Apakah Menangis Membatalkan Puasa Ramadhan Ini Penjelasannya

Menjawab pertanyaan apakah menangis membatalkan puasa Ramadhan, maka jawabannya tidak akan membatalkan puasa selama air mata yang mengalir tidak masuk maupun tertelan pada mulut. Hal ini tentunya tidak akan mengurangi juga pahalannya.

Hukum menangis saat puasa Ramadhan maupun lainnya yaiu makrud. Artinya boleh dilakukan maupun tidak dan tidak menimbulkan dosa. Dengan begitu, tentu kita sebagai umat muslim harus menjaga diri dari hawa nafsu agar tidak menimbulkan batal puasa.

Baca Juga: Keutamaan Puasa Rajab Tanggal 1 Hingga 10 Bulan Rajab

Hal yang Membatalkan Puasa

Hal yang Membatalkan Puasa

Berikut ini, beberapa hal yang membatalkan puasa, setelah mengetahui jawaban dari apakah menangis membatalkan puasa, yaitu:

Makan dan Minum Secara Sengaja

Menangis membatalkan puasa atau tidak tergantung dari suatu kondisi pada saat itu. Namun, hal yang membatalkan puasa pertama adalah makan dan minum secara senagaja. Allah SWT telah berfirman dalam surah Al-Baqarah ayat 187:

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا حَتَّىٰ يَتَبَيَّنَ لَكُمُ الْخَيْطُ الْأَبْيَضُ مِنَ الْخَيْطِ الْأَسْوَدِ مِنَ الْفَجْرِ ۖ ثُمَّ أَتِمُّوا الصِّيَامَ إِلَى اللَّيْلِ

Artinya: “Dan makan minumlah hingga terang bagimu benang putih dan benang hitam, yaitu fajar. Kemudian sempurnakanlah puasa itu sampai (datang) malam,” (Al-Baqarah-187).

Haid dan Nifas

Hal yang membatalkan puasa yaitu haid dan nifas. Bila seorang wanita muslim mengalami haid pada bulan puasa Ramadhan, maka puasanya akan batal. Hal ini tentu sangat berbeda dengan menangis membatalkan puasa apabila air matanya tertelan.

Rasulullah SAW telah bersabda dalam sebuah hadits menjelaskan haid saat puasa, :

أَلَيْسَ إِذَا خَاضَتْ لَمْ تُصَلِّ وَلَمْ تَصُمْ؟ قُلنَ : بَلَى : قَالَ : فَذَ لِكَ نُقْصَانُ دِيْنِهَا

Artinya: “Bukankah jika haid dia (wanita) tidak salat dan puasa ? Kami katakan : ‘Ya’, Beliau berkata : ‘Itulah (bukti) kurang agamanya,” (HR Muslim 79, dan 80 dari Ibnu Umar dan Abu Hurairah).

Muntah dengan Sengaja

Adapun, hal yang membatalkan puasa dan menangis membatalkan puasa kita air matanya masuk ke mulit, yaitu muntah dengan sengaja. Ketika seserang dalam keadaan puasa, dan mengalami muntah dengan senagaja, maka puasanya menjadi batal. Seperti yang telah dijelaskan dalam sebuah hadits:

مَنْ ذَرَعَهُ الْقَيْءُ فَلَيْسَ عَلَيْهِ قَضَاءٌ وَمَنِ اسْتَقَاءَ فَليَقْضِ

Artinya: “Barangsiapa yang terpaksa muntah, maka tidak wajib baginya untuk mengqadha’ puasanya, dan barangsiapa muntah dengan sengaja, maka wajib baginya mengqadha’ puasanya.”

Berhubungan Suami Istri

Hal yang membatalkan puasa selanjutnya adalah berhubungan suami isti disiang hari. Hal ini tentu dapat menyebabkan membatalkan puasa. Oleh sebab itu, ketika ingin berhubungan suami istri pada bulan puasa, maka bisa dilakukan malam hari.

اُحِلَّ لَكُمْ لَيْلَةَ الصِّيَامِ الرَّفَثُ اِلٰى نِسَاۤىِٕكُمْ ۗ هُنَّ لِبَاسٌ لَّكُمْ وَاَنْتُمْ لِبَاسٌ لَّهُنَّ ۗ عَلِمَ اللّٰهُ اَنَّكُمْ كُنْتُمْ تَخْتَانُوْنَ اَنْفُسَكُمْ فَتَابَ عَلَيْكُمْ وَعَفَا عَنْكُمْ ۚ فَالْـٰٔنَ بَاشِرُوْهُنَّ وَابْتَغُوْا

مَا كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ ۗ

Artinya: “Dihalalkan bagimu pada malam hari puasa bercampur dengan istrimu. Mereka adalah pakaian bagimu, dan kamu adalah pakaian bagi mereka. Allah mengetahui bahwa kamu tidak dapat menahan dirimu sendiri, tetapi Dia menerima tobatmu dan memaafkan kamu. Maka sekarang campurilah mereka dan carilah apa yang telah ditetapkan Allah bagimu,” (QS. Al-Baqarah-187).

Nah, itulah pembahasan apakah menangis membatalkan puasa Ramadhan? Ini penjelasannya yang dapat kami sampaikan, semoga bermanfaat.

Baca Selanjutnya: 10 Keutamaan Puasa Asyura yang Perlu Diketahui